Minggu, 21 April 2013

Ilmu Budaya Dasar


A.  Ilmu Budaya Dasa sebagai Komponen Mata Kuliah Dasar Umum

1.      Latar Belakang Ilmu Budaya Dasar

Latar belakang diberikannya mata kuliah ilmu budaya dasar, selain melihat konteks budaya Indonesia, juga sesuai dengan program pendidikan di perguruan tinggi. Rapat rektor-rektor universitas/ institut negeri se-Indonesia yang diselenggarakan pada tanggal 11 s/d 13 Oktober 1971 di Tugu menyimpulkan pentingnya pemberian nama mata kuliah basic social science (ilmu sosial dasar) dan basic humanities (ilmu budaya dasar) dalam rangka menyempurnakan pembentukan sarjana. Maka dalam rapat kerjapara pengajar tanggal 25 s/d 28 Oktober 1971 yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Direktorat Jenderal Pendidikan Departemen P dan K diputuskan bahwa kedua mata kuliah tersebut akan diberikan disemua fakultas dalam lingkungan universitas/ institut negeri diseluruh Indonesia, yang kemudian ditegaskan dalam surat Direktur Pendidikan Tinggi nomor 1338/DPT/A/71.
2.      Lingkup Ilmu Budaya Dasar

Ilmu budaya dasar atau basic humanities tidaklah identik dengan the humanities atau pengetahuan budaya yang cukup mencakup keahlian filsafat dan seni yang dapat dibagi-bagi lagi kedalam berbagai bidang keahlian seperti seni sastra, seni tari, seni rupa dan lain-lain. Jadi, ilmu budaya dasar bukanlah ilmu tentang berbagai budaya, melainkan pengertian dasar dan pengertian umum lainnya tentang konsep-konsep dan teori-teori budaya yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah kebudayaan.
Perdebatan terhadap berbagai masalah budaya ini dilakukan dengan menggunakan berbagai pengetahuan budaya (the humanities), baik dengan menggunakan suatu keahlian (disiplin) ataupun dengan menggunakan pendekatan berbagai keahlian (interdisipliner).

3.      Pokok Bahasan Ilmu Budaya Dasar

Pokok bahasan Ilmu Budaya Dasar adalah masalah-masalah kemanusiaan dan budaya. Menurut Budi Darma yang menyitir pendapat Arthur Koesler dalam The Act of Creation dan Wolter Kaufmann dalam The Future of The Humanities, masalah kemanuaiaan dan kebudayaan telah diungkapkan secara halus atau (refined) oleh ahli-ahli seni dan filsafat dalam karya-karya seni dan filsafat. Karya-karya seni dan filsafat itu merupakan perwujudan perasaan dan pemikiran orang terhadap masalah-masalah kemanusiaan dan budaya yang terjadi disekelilingnya. Jadi, jika seandainya sekarang bermunculan hasil karya seni sastra dengan tema kebobrokan masyarakat, maka hal ini menunjukkan bahwa masyarakat tersebut sedang “sakit”.

Pokok bahasan ilmu budaya dasar tidaklah ketat seperti yang telah diungkapkan diatas, tetapi dapat bertambah atau berkurang, dapat pula berubah formulasinya, sesuai dengan pandangan seseorang terhadap hidup dan terhadap karya seni serta filsafat yang bersangkutan, bergantung pula pada keadaan seseorang dalam menghayati dan mengamati masalah-masalah kemanusiaan dan budaya.

B.   Disekitar Kebudayaan

1.      Pengertian Kebudayaan

Kebudayaan mengandung pengertian yang luas, meliputi pemahaman perasaan suatu bangsa yang kompleks, meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat-istiadat (kebiasaan), dan pembawaan lainnya yang diperoleh dari anggota masyarakat.
Demikian pula dalam pendekatan metodenya sudah banyak disiplin ilmu lain seperti sosiologi, psikoanalis, psikologi (perilaku) mengkaji berbagai macam masalah kebudayaan. Bahkan ada yang bertentangan dalam hal pertanyaan tentang segi epistemologis dan ontologis. Walaupun demikian, menurut Kluckhohn (1951) hampir semua antropolog Amerika setuju dengan dalil proposisi yang diajukan oleh Herkovits dalam bukunya yang berjudul Man and His work tentang teori kebudayaan, yaitu:
  1. Kebudayaan dapat dipelajari.
  2. Kebudayaan bersumber dari segi segi biologis, lingkungan, psikologis dan komponen sejarah eksistensi manusia.
  3. Kebudayaan mempunyai struktur.
  4. Kebudayaan dapat dipecah-pecah ke dalam berbagai aspek.
  5. Kebudayaan bersifat dinamis.
  6. Kebudayaan mempunyai variabel.
  7. Kebudayaan memperlihatkan keteraturan yang dapat dianalisis dengan metode ilmiah. 
  8. Kebudayaan merupakan alat bagi seseorang (individu) untuk mengatur keadaan totalnya dan menambah arti bagi kesan kreatifnya.
Singkat kata, kebudayaan dalam kaitannya dengan ilmu budaya dasar adalah penciptaan, penertiban dan pengolahan nilai-nilai insani tercakup didalamnya usaha memanusiakan diri didalam alam lingkungan, baik fisik maupun sosial. Nilai-nilai ditetapkan atau dikembangkan sehingga sempurna. Tidak memisah-misahkan dalam membudayakan ala, memanusiakan hidup dan menyempurnakan hubungan insani. Manusia memanusiakan dirinya dan memanusiakan lingkungan dirinya.

2.      Kerangka Kebudayaan

Untuk dapat memahami ilmu budaya dasar yang merupakan perpaduan beberapa pengertian, konsep atau teori pengertian budaya, bila perlu terlebih dahulu mempelajari kerangka kebudayaannya sendiri. Sebab apa yang dikatakan definisi, pengertian atau teori tentang pengetahuan budaya, semuanya merupakan komponen dari susunan suatu ilmu, yang tidak dapat melepaskan diri dari objek materi dan objek formal suatu ilmu.

Konsep kebudayaan

Menurut Koentjaraningrat (1980), kata “kebudayaan” berasal dari kata Sanskerta budhayah yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti “budi” atau “akal”. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan “hal-hal yang bersangkutan dengan akal”. Sedangkan kata “budaya” merupakan perkembangan majemuk dari “budi daya” yang berarti “daya dari budi” yang berupa cipta, Karsa dan rasa, dengan “Kebudayaan” yang berarti hasil dari cipta, karsa dan rasa.
Menurut dimensi wujudnya, kebudayaan mempunyai tiga wujud, yaitu:

  • Kompleks gagasan, konsep dan pikiran manusia: Wujud ini disebut sistem budaya, sifatnya abstrak, tidak dapat dilihat dan berpusat kepada kepala-kepala manusia yang menganutnya.
  • Kompleks aktivitas, berupa aktivitas manusia yang saling berinteraksi, bersifat kongkret, dapat diamati atau diobservasi.
  • Wujud sebagai benda: Aktivitas manusia yang saling berinteraksi tidak lepas dari berbagai penggunaan peralatan sebagai hasil karya manusia untuk mencapai tujuannya.
Unsur-unsur kebudayaan

Unsur-unsur kebudayaan meliputi semua kebudayaan didunia, baik yang kecil, bersahaja dan terisolasi, maupun yang besar, kompleks dan dengan jaringan hubungan yang luas. Menurut konsep B. Malinowski, kebudayaan didunia mempunyai tujuh unsur universal, antara lain:
  • Bahasa
  • Sistem teknologi
  • Sistem mata pencaharian
  • Organisasi sosial
  • Sistem pengetahuan
  • Religi
  • Kesenian
Unsur kebudayaan unviersal yang tujuh macam itu dilambangkan dengan membagi sebuah lingkaran menjadi tujuh sektor yang masing-masing melambangkan salah satu dari ketujuh unsur tersebut. Maka terlihat jelas bahwa setiap unsur kebudayaan yang universal itu dapat mempunyai tiga wujud kebudayaan, yaitu sistem budaya, sistem sosial dan kebudayaan fisik.

3.      Sistem Budaya dan Sistem Sosial

Untuk memudahkan dalam menganalisis suatu sistem menurut perspektif tertentu, perlu diketahui sistem itu terlebih dahulu. Definisi sistem yang memadai sulit dirumuskan, mengingat dalam sistem banyak terkandung unsur-unsur penting. Secara sederhana sistem diartikan sebagai kumpulan bagian-bagian yang bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan. Definisi ini bersifat operasional. Tetapi yang jelas, sistem itu memiliki sepuluh ciri, yaitu:
  1. Fungsi (function);
  2. Satuan (unit);
  3. Batasan (boundary);
  4. Bentuk (structure);
  5. Lingkungan (environment);
  6. Hubungan (relation);
  7. Proses (process);
  8. Masukan (input);
  9. Keluaran (output);
  10. Pertukaran (exchange).
Sistem budaya

Sistem budaya merupakan wujud yang abstrak dari kebudayaan. Sistem budaya atau cultural system merupakan ide-ide dan gagasan manusia yang hidup bersama sama suatu masyarakat. Gagasan tersebut tidak dalam keadaan lepas satu dari yang lainnya, tetapi selalu berkaitan dan menjadi suatu sistem. Dengan demikian sistem budaya adalah bagian dari kebudayaan, yang diartikan pula adat-istiadat.

Sistem sosial

Sistem sosial terdiri atas satuan-satuan interaksi sosial. Unsur-unsur tersebut membentuk struktur sistem sosial itu sendiri dan mengatur sistem sosial. Unsur-unsur sistem sosial tersebut ada sepuluh, yaitu:
  1. Keyakinan (pengetahuan);
  2. Perasaan (sentimen);
  3. Tujuan, sasaran atau cita-cita;
  4. Norma;
  5. Kedudukan peranan (status);
  6. Tingkatan atau pangkat (rank);
  7. Kekuasaan atau pengaruh (power);
  8. Sangsi;
  9. Sarana ayau fasilitas;
  10. Tekanan ketegangan (stress strain).

4.      Konsep Nilai, Sistem Nilai dan Orientasi Nilai (budaya)

Kajian ilmu budaya dasar adalah nilai-nilai dasar manusia. Oleh karena itu, dalam proses pengkajiannya, permasalahan nilai tersebut perlu terlebih dahulu dimengerti dan dipahami.

Konsep nilai

Batasan nilai dapat mengacu pada berbagai hal seperti minat, kesukaan, pilihan, tugas, kewajiban agama, kebutuhan, keamanan, hasrat, keengganan, atraksi (daya tarik) dan hal-hal lain yang berhubungan dengan perasaan dari orientasi seleksinya. Akan tetapi, segala sesuatu yang sifatnya merupakan manifestasi perilaku refleks atau hasil proses kimia didalam tubuh, itu bukan nilai. Rumusan nilai dapat diperluas atau dipersempit. Rumusan nilai yang luas dapat meliputi seluruh perkembangan dan kemungkinan unsur-unsur nilai, perilaku yang sempit diperoleh dari bidang keahlian tertentu, seperti dari satu disiplin kajian ilmu sosial.

Watak nilai

Memahami nilai akan lebih jelas apabila dilanjutkan dengan mempelajari tentang watak nilai. Dengan memahami watak nilai atau etos nilai, diharapkan seseorang akan mengetahui sesuatu yang berharga dalam kehidupan ini dan mengetahui apa yang harus dilakukannya untuk menjadi manusia dalam arti sepenuhnya.

Sistem-sistem nilai

Konsep sistem-sistem nilai budaya bermacam-macam, merupakan sekumpulan alternatif yang menunjukkan bahwa macam-macam nilai dapat mengandung suatu model menyeluruh untuk deskripsi dan studi perbandingan.

Orientasi nilai budaya

Sistem nilai budaya dalam masyarakat manapun didunia, secara universal menyangkut lima masalah pokok kehidupan manusia, yaitu:
  • Hakikat hidup manusia (MH)
  • Hakikat karya manusia (MK)
  • Hakikat waktu manusia (MW)
  • Hakikat alam manusia (MA)
  • Hakikat hubungan manusia (MM)

5.      Perubahan Kebudayaan dan Penyesuaian Diri Antar Budaya

Masyarakat dan kebudayaan dimanapun selalu dalam keadaan berubah, sekalipun masyarakat dan kebudayaan primitif yang terisolasi jauh dari berbagai perhubungan dengan masyarakat yang lainnya. Terjadinya perubahan ini disebabkan oleh beberapa hal:
  • Sebab-sebab yang berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan itu sendiri
  • Sebab-sebab perubahan lingkungan alam dan fisik tempat mereka hidup
Peristiwa-peristiwa perubahan kebudayaan

Cultural lag
Cultural lag adalah perbedaan antara taraf kemajuan berbagai bagian dalam kebudaan suatu masyarakat. Artinya ketinggalan kebudayaan, yaitu selang waktu antara saat benda itu diperkenalkan pertama kali dan saat benda itu diterima secara umum sampai masyarakat dapat menyesuaikan diri terhadap benda tersebut.

Cultural survival
Cultural survival adalah suatu konsep yang lain, dalam arti bahwa konsep ini dipakai untuk menggambarkan suatu praktek yang telah kehilangan fungsi pentingnya seratus persen, yang tetap hidup dan berlaku semata-mata hanya diatas landasan adat-istiadat semata-mata.

Cultural conflict
Faktor-faktor yang menimbulkan konflik kebudayaan adalah keyakinan-keyakinan yang berbeda sehubungan dengan berbagai masalah aktivitas berbudaya. Konflik ini dapat terjadi diantara anggota-anggota kebudayaan yang satu dengan yang lainnya. 

Culture shock
Istilah ini pertama kali dikemukakan oleh Kalervo Oberg (1958) untuk menyatakan apa yang disebutnya sebagai suatu penyakit jabatan dari orang-orang yang tiba-tiba dipindahkan kedalam suatu kebudayaan yang berbeda dari kebudayaannya sendiri, semacam penyakit mental yang tak disadari oleh korbannya.

6.      Barat dan Timur Diantara Kebudayaan Nasional 

Hampir sepanjang sejarah, kontak antara Timur dengan Barat lebih berwujud konflik, disharmoni, persaingan atau perang dibanding konsensus nilai atau saling mengerti. Meskipun teknologi informasi dan komunikasi sudah sangat canggih dan modernnya, tetap saja ketidaktahuan antara Barat dengan Timur menyelimuti pengetahuan kebudayaan dan nilai spiritual yang dimiliki.

Nilai budaya Barat

Barat dalam cara berpikir dan hidupnya lebih terpikat oleh kemajuan material dan hidup sehingga tidak cocok dengan cara berpikir untuk meninjau makna dunia dan hidup. Barat hidup dalam dunia teknis dan ilmiah, maka filsafat tradisional dan pemahaman agama muncul sebagai sesuatu sistemik ide-ide abstrak tanpa hubungan dengan yang nyata dan praktek hidup. Akibatnya, pengaruhnya atas hidup dan pikiran orang semakin berkurang karena Barat mengunggulkan cara berpikir analitis rasional, yakni filsafat positivisme. Maka mereka menganggap pikiran nilai-nilai hidup yang meminta kepekaan hati sebagai sebagai sesuatu yang subjektif dan tidak bermutu.
Apa yang tidak rasional diserahkan kepada daya pembayangan karya sastrawan, sehingga karya sastra bukan saja pantulan hidup, melainkan juga merupakan norma kehidupan. Kalau begitu, apa yang menjadi dasar-dasar nilai di Barat? Menurut To Thi Anh (1975) ada tiga nilai penting yang mendasari semua nilai di Barat, yakni martabat manusia, kebebasan dan teknologi.

Nilai budaya Timur

Nilai budaya Timur pada intinya banyak bersumber dari agama-agama yang lahir didunia Timur. Pada umumnya manusia-manusia Timur menghayati hidup yang meliputi seluruh eksistensinya. Berpikir secara Timur tidak bertujuan menunjang usaha-usaha manusia untuk menguasai dunia dan hidup secara teknis., sebab manusia Timur lebih menyukai intuisi dari pada akal budi. Inti kebudayaan manusia Timur tidak terletak pada inteleknya, tetapi pada hatinya. Dengan hatinya mereka menyatukan akal budi dan intuisi serta inteligensi dan perasaan. Ringkasnya, mereka menghayati hidup tidak hanya pada otaknya.

SUMBER:

SOELAEMAN, M. Munandar, Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar, PT ERESCO, Bandung, 1987

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar