Rabu, 15 Mei 2013

Revolusi Kebudayaan





Jika dilihat dari sudut pandang pengertian dari revolusi adalah perubahan sosial dan perubahan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat, sedangkan kebudayaan adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Dengan kata lain pengertian dari revolusi budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat dalam waktu yang cukup lambat.



Revolusi budaya juga dapat timbul akibat timbulnya perubahan lingkungan masyarakat, penemuan baru, dan kontak dengan kebudayaan lain. Sebagai contoh, berakhirnya zaman es berujung pada ditemukannya sistem pertanian, dan kemudian memancing inovasi-inovasi baru lainnya dalam kebudayaan.

Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya revolusi kebudayaan

Lingkungan alam fisik

Terjadinya berbagai bencana alam menyebabkan masyarakat yang mendiami daerah-daerah itu terpaksa harus meninggalkan tempat tinggalnya. Apabila mereka mendiami tempat yang baru, mereka harus menyesuaikan diri dengan keadaan alam yang baru yang akan mengakibatkan terjadinya perubahan perubahan pada lembaga-lembaga organisasi mereka. Penyebab yang bersumber pada lingkungan alam fisik kadang-kadang ditimbulkan oleh tindakan masyarakat itu sendiri.

Perang 

Peperangan dengan negara lain memicu perubahan-perubahan karena negara yang menang akan memaksakan kebudayaannya pada negara yang kalah.

Kebudayaan masyarakat lain 

Kebudayan yang disebarkan oleh bangsa lain dapat mengakibatkan revolusi. Hubungan yang dilakukan secara fisik antara dua kelompok masyarakat mempunyai kecenderungan untuk menimbulkan pengaruh timbal balik, yakni masing-masing masyarakat dapat memengaruhi masyarakat lainnya. Apabila pengaruh dari masyarakat tersebut diterima tidak karena paksaan, hasilnya dinamakan demonstration effect. Proses penerimaan pengaruh kebudayaan asing di dalam antropologi budaya dinamakan akulturasi. Apabila salah satu dari 2 kebudayaan yang bertemu mempunyai taraf teknologi yang lebih tinggi, maka yang terjadi adalah proses imitasi, yaitu peniruan terhadap unsur-unsur kebudayaan lain. 
Namun tak hanya tak sampai disitu saja ketika kita membicarakan perubahan keadaan budaya itu, karena tentunya berhubungan dengan perubahan struktur sosial dari masyarakat tersebut. Sebagai contoh, di Indonesia, generasi muda kita lebih senang menghabis waktu di pusat perbelanjaan seperti di Mall dari pada harus belajar diseolah ataupun dirumah. generasi muda kita juga sudah sangat lekat dengan berbudaya berpakaian yang kurang pantas untuk digunakan yang tidak mencerminkan kebudayaan timur di negeri kita. Mereka lebih senang bergaya ala kebarat-baratan dan menganggap budayanya sendiri "aneh".  Bahkan kini sudah banyak dari anggota masyarakat yang berasal dari suku budaya tertentu yang sudah meninggalkan kebudayaan asli sukunya yang seharusnya menjadi identitas kebudayaannya tersebut.

Seperti yang dikutip dari news.detik.com Surabaya, menurut Guruh Soekarno Putra berbagai perubahan budaya yang dialami oleh bangsa Indonesia adalah seperti cara menggunakan bahasa dan cara berprilaku. Generasi sekarang lebih bangga menggunakan Bahasa Inggris daripada menggunakan Bahasa Indonesia. "Terutama di perkotaan yang menjadi cermin budaya barat," ujar pria yang juga koreografer ini. Perubahan ini, selain disebabkan oleh gencarnya budaya barat yang masuk ke Indonesia, juga dikarenakan generasi muda tidak mendapatkan asupan informasi mengenai Indonesia secara utuh. Informasi Indonesia seperti letak geografis dan sejarahnya. Tanpa mengetahui Indonesia secara utuh maka kecintaan akan bangsa sendiri mustahil dilakukan. "Seperti peribahasa Tak Kenal Maka Tak Sayang. Begitulah nasib generasi muda kita sekarang," ungkap Guruh. 

Yang juga dikutip dari news.detik.com, Isu mafia peradilan terus menyengat korps hakim. Bertubi-tubi, para pengadil tersandera stigma mafia peradilan. Nah, seiring waktu dengan transparansi dan pengawasan, para hakim terus mereformasi diri. Komisi Yudisial (KY) menyebut para wakil Tuhan tersebut mulai hati-hati dalam berurusan dengan suap.

"Ada perubahan di daerah, mereka mulai hati-hati. Mulai mengeluh pendapatan yang berarti sudah tidak bisa neko-neko. Itu sudah ada perubahan budaya, tinggal perasaan itu konkrit atau tidak, dengan tidak melanggar melakukan perbuatan itu," kata Komisioner KY, Jaja Ahmad Yusuf, di Warung Daun, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (22/12/2012). 

Sebagai salah satu contoh revolusi kebudayaan yang terbesar didunia adalah revolusi kebudayaan Cina. Dari tahun 1966 hingga 1968, militia belia utama Mao yang bergelar Pengawal Merah untuk menggulingkan sesiapa yang dilihat oleh Mao sebagai musuh dan mengambil alih kawalan terhadap pentadbiran negeri dan parti, menggantikan Jawatankuasa Pusat dengan Jawatankuasa Revolusi Kebudayaan, dan kerajaan-kerajaan setempat pula diganti oleh jawatankuasa revolusi. Di tengah huru-hara dan keganasan yang bersusulan, kebanyakan pelopor revolusi, pengarang, artis, dan tokoh keagamaan diusir dan dibunuh, berjuta-juta orang didakwa, dan sebanyak setengah juta orang terkorban.



Pandangan sejarah rasmi oleh Parti Komunis China terhadap Revolusi Kebudayaan dan peranan Mao dalamnya dikandungkan dalam 'Resolusi mengenai Soalan-soalan Tertentu dalam Sejarah Parti Kita Sejak Penubuhan Republik Rakyat China' yang diterima pada 27 Juni 1981. Dalam dokumen ini, adalah dinyatakan bahawa "Tanggungjawab utama kerana kesilapan 'Sayap Kiri' yang serius akibat 'Revolusi Kebudayaan,' satu kesilapan yang menyeluruh dan amat lama, memang terletak pada Komrad Mao Zedong" dan bahawa Revolusi Kebudayaan dilaksanankan "di bawah kepimpinan Mao Zedong yang menyelewang dan dimanipulasi oleh kumpulan anti-revolusi yang terdiri daripada Lin Biao dan Jiang Qing lalu mengakibatkan musibah dan huru-hara yang serius kepada Parti dan warga China." Pandangan rasmi ini yang semenjak itu menjadi rangka utama untuk historiografi China mengenai Revolusi Kebudayaan, mengasingkan tindakan peribadi Mao ketika Revolusi Kebudayaan daripada kepahlawanan awal beliau serta juga mengasingkan kesilapan peribadi Mao daripada kebenaran teori yang direka beliau.  

Revolusi Kebudayaan masih menjadi isu yang sensitif di dalam Republik Rakyat China. Meskipun sedikit sahaja penapisan terhadap huraian peristiwa-peristiwa Revolusi Kebudayaan, pandangan sejarah yang bertentangan dengan versi ang digariskan dalam Resolusi 1981 sering ditapis (termasuk pendapat bahawa Revolusi Kebudayaan adalah perkara yang baik atau bahawa Mao lebih atau kurang bersalah daripada apa yang ditunjukkan sejarah rasmi). 

REFERENSI:







 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar