Rabu, 19 Maret 2014

Nilai Sebuah Mata Uang Bisa Mengalami Penurunan, Mengapa?

Contohnya, seperti yang dikutip dari kompas.com, Nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan terhadap dollar AS. Beberapa faktor dari global dan domestik turut memberikan kontribusi penurunan mata uang Indonesia tersebut.
 Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti mengatakan, dari sisi global, pelemahan nilai tukar rupiah dipicu oleh pembalikan dana asing (capital reversal). Ekonomi global yang belum pulih membuat investor menukarkan produk investasinya ke jenis investasi dengan risiko paling aman, yaitu dollar AS.

"Sementara dari sisi domestik, memang sedang ada kebutuhan dollar AS yang cukup besar baik untuk membayar impor hingga membayar utang pemerintah maupun utang swasta," kata Destry kepada Kompas.com di Jakarta, Selasa (23/7/2013). 
Berdasarkan catatan kurs tengah Bank Indonesia (BI) Rupiah berada di posisi Rp10.504 per USD. Penurunan rupiah ini terjadi karena neraca perdagangan Indonesia yang belakangan ini terus mencatatkan defisit. Selain itu, faktor domestik lainnya adalah karena reaksi atas asumsi makro pada APBN 2014 yang dinilai kurang pro terhadap pasar.

Sementara itu, dari sisi eksternal, kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat yang akan menghentikan paket Quantitative Easing (QE) III, membuat panik pelaku pasar global. Karena kebijakan moneter itu dinilai sebagai penyelamat kondisi ekonomi dunia yang tengah rapuh.
Namun ada beberapa hal yang dapat menyebabkan sebuah nilai mata uang suatu negara bisa turun. Berikut penyebab-penyebabnya:
  • Diferensiasi Suku Bunga Bank Sentral suatu negara akan mengatur suku bunga yang bertujuan mengendalikan laju inflasi negara tersebut sehingga nilai tukar mata uangnya cenderung stabil. Suku bunga yang tinggi dapat menyebabkan nilai tukar mata uang menjadi tinggi pula.
  • Stabilitas Politik & Kinerja Ekonomi Kekacauan politik suatu negara dapat menyebabkan hilangnya keyakinan pada mata uang negara itu sendiri dan adanya perpindahan modal menuju mata uang dari suatu negara yang lebih stabil.
  • Hutang Publik Hutang publik terjadi ketika pemerintah suatu negara melakukan pembiayaan dengan skala besar untuk fasilitas publik hingga menyebabkan defisit. Hutang publik yang tinggi menyebabkan menurunnya nilai tukar mata uang.
  • Defisit Neraca Berjalan Neraca berjalan merupakan gambaran keseimbangan proses perdagangan antara sebuah negara dengan negara-negara lain yang menjadi rekan dalam perdagangan tersebut. Defisit dalam neraca berjalan berarti sebuah negara cenderung lebih banyak membeli produk asing ketimbang menjualnya, hal ini akan berakibat menurunnya nilai tukar mata uang.
  • Diferensiasi Inflasi Jika nilai inflasi pada suatu negara rendah, maka nilai mata uangnya cenderung tinggi, demikian pula sebaliknya, nilai inflasi yang tinggi akan menyebabkan nilai mata uang rendah. 
  • Ketentuan Perdagangan Ketentuan perdagangan berkaitan dengan jumlah ekspor dan impor suatu negara. Jika nilai ekspornya lebih tinggi dari impor maka bisa dikatakan ketentuan perdagangan negara itu dalam kondisi baik sehingga nilai tukar mata uangnya cenderung tinggi. 
Suatu negara akan mampu mengendalikan kondisi keuangan negaranya, jika rakyatnya mampu mengendalikan sifatnya yang konsumtif. Lebih menghargai produk hasil dalam negerinya sendiri. Namun jika sudah terlanjur terjadi penurunan nilai mata uang itu sendiri, maka negara tersebut harus melakukan beberapa kebijakan seperti kebijakan moneter, kebijakan fiskal, kebijakan nonmoneter dan kebijakan sektor riil.
REFERENSI:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar